Habib Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfaqih Al-'Alawi

Habib Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfaqih Al-'Alawy

Habib Abdul Qadir Bilfaqih  dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Shafar tahun 1316 H / 5 Juli 1898 M . Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani.

Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.

Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad, Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata:

”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat ta'wil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Qur'anul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT akan memberikan ilmu, maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani ”̮
 

Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jilani.


Sejak kecil, Beliau sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, Beliau dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran.

Pada masa mudanya, Beliau dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya.

♡ Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu ♡ 
Demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.

Pernah suatu ketika disaat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, Beliau ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata:

 ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini”

Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.

Pendidikan utama dan pertama, Beliau dapat dari Ayah Beliau, Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bilfaqih, seorang rujukan ummat di zamannya.

Setelah dari ayahnya, Beliau menimba ilmu dan memperoleh ijazah dari para ulama' dan auliya', diantara Guru-Guru Beliau adalah:

- Al-Imam Al-Habib Abdullah Bin Umar Asy-Syathiri
- Al-Imam Al-Habib Alwi Bin Abdurrahman Al-Masyhur
- Al-Imam Al-Habib Segaf Bin Hasan Al-Aydrus
- Asy-Syekh Al-Imam Muhammad Bin Abdul Qadir Al-Kattany
- Asy-Syekh Al-Imam Umar Bin Hamdan Al-Maghriby
- Al-Imam Al-Habib Ali Bin Zain Al-Hadi
- Al-Imam Al-Habib Ahmad Bin Hasan Al-Aththas
- Al-Imam Al-Habib Muhammas Bin Ahmad Al-Muhdlar
- Asy-Syekh Abu Bakar Bin Ahmad Al-Khatib
- Asy-Syekh Abdurrahman Bahurmuz

Habib Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfaqih Al-'Alawy

Dalam usia yang masih anak-anak, Beliau telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, Beliau telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.

Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan:

 ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”


Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya Beliau sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.

Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, Beliau melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, Beliau selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.

Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, Beliau mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.

Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945, Beliau mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang.

Beliau pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.

Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, Beliau ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra).

Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, Beliau banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayyid Alwy bin Abbas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, Beliau juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.

Diantara murid-murid Beliau adalah :

1. Al-Habib Abdullah Bin Abdul Qadir Bilfaqih, putera dan khalifah tunggal Beliau, Al-Habib Abdullah inilah yang melanjutkan semua dakwah Beliau dan menjadi pengasuh di Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah Kota Malang.
Beliau lahir di kota Surabaya, 12 Robi'ul Awal 1355 H, bertepatan dengan 1 Juni 1936 M, Beliau wafat pada tanggal 23 Jumadil Ula 1412 H / 30 Nopember 1992.

2 . Al-Habib Salim Bin Ahmad Bin Jindan (Seorang ulama' yang berdomisili di Kota Jakarta yang dikenal dengan sebutan Singa Podium).

3 . Al-Habib Ahmad Al-Habsyi (Pendiri Ponpes Ar-Riyadh, Palembang, Sumatera Selatan)

4. Al-Habib Muhammad Bin Husein Ba'abud (Pendiri Ponpes Darunnasyi'in, Lawang)

5 . Al-Habib Alwi Bin Salim Al-Aydrus (Da'i Kharismatik di Kota Malang)

6. Asy Syekh Al-Ustadz Abdullah Bin Awadh Abdun (Pendiri Ponpes Darut Tauhid, Malang)

7. Al-Habib Syekh Bin Ali Al-Jufri (Pendiri Ponpes Al Khairat dan Da'i Jakarta)

8. KH . Alawi Muhammad (Pendiri Ponpes At-Taraqqi, Sampang, Madura).

Setelah menghabiskan seluruh hidupnya untuk berdakwah, mengajar, dan mengabdi pada ummat, Beliau wafat pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1382 H / 19 Nopember 1962, dalam usia 62 tahun.

Pada detik-detik menjelang wafat, Beliau mengatakan kepada puteranya Al-Habib Abdullah:
"Lihatlah wahai anakku, Ini Kakekmu Muhammad SAW dan Ibumu Sayyidatunaa Fathimah Az Zahra datang menjemputku . . . "

Beliau dan putra Beliau dimakamkan di Pemakaman Kasin, Kota Malang.

Hingga saat ini makam Beliau tidak pernah sepi dari para peziarah yang datang.

Sampai saat ini Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al Faqihiyyah dan majelis-majelis yang dirintis Oleh Beliau Prof. Dr. Al-Habib Abdullah tetap berjalan seperti sedia kala, di bawah asuhan ketiga putera Beliau, Al-Habib Abdul Qadir Bin Abdullah Bilfaqih, Al-Habib Muhammad Bin Abdullah Bilfaqih, dan Al-Habib Abdurrahman Bin Abdullah Bilfaqih.

Untuk mengenang jasa-jasa kebaikan Beliau serta menghidupkan kembali ajaran-ajaran Beliau, maka setiap tahunnya, pada hari Ahad terakhir Bulan Jumadil Akhir diadakan HAUL Al-Habib Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfaqih dan Putera Beliau Prof. Dr. Al-Habib Abdullah Bin Abdul Qadir Bilfaqih, beserta HUT Pesantren di Pelataran Pondok Darul Hadits Al Faqihiyyah, yang dihadiri oleh ribuan muslimin-muslimat dari berbagai penjuru Tanah Air, bahkan sebagian mereka datang dari Luar Negeri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Habib Abdul Qadir Bin Ahmad Bilfaqih Al-'Alawi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel