Akhlak Istri-istri Rasulullah yang Patut Ditiru Setiap Muslimah

Rasulullah Sebagai Suri Tauladan dan Panutan


Di antara konsekuensi persaksian ummat Islam ketika bersyahadat  “Sesungguhnya Nabi Muhammad itu utusan AllahIalah hendaknya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan kita setiap hari. Wanita muslimah pun hendaknya meniru istri Rasulullah SAW karena Allah Ta’ala memilihkan beliau istri pendamping hidup yang taat dan beribadah kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. “. (QS.al-Ahzab [33]: 21)

Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, mendengar Nabi SAW berkata,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

Ada tiga perkara yang apabila orang memilikinya, dia mendapatkan manisnya iman: apabila Allah dan Rasul-Nya lebih disenangi dari pada selainnya,…” (HR. Bukhari 1:16 Kitabul Iman)

Menjadikan beliau dan istrinya sebagai suri teladan kehidupan; bukan terbatas pada amal ibadah saja seperti shalat, puasa, dan ibadah lainnya, melainkan semua tindakan dan amal kita setiap hari, karena beliau manusia seperti kita semuanya sehingga apa yang beliau kerjakan tentu bisa di tiru oleh umatnya, kecuali hal yang menjadi kehususan beliau atau karena tidak mampu maka ada hukum tersendiri.

Para Istri Rasulullah SAW Senang Menerima Nasihat

Akhlak Istri-istri Rasulullah yang Patut Ditiru Setiap Muslimah

Di antara hal yang harus kita perhatikan dari kebaikan istri Rasulullah SAW, mereka senang sekali menerima nasihat suami karena nasihat beliau merupakan nasihat yang mulia, yang menyejukan hati, yang membawa kebaikan hidup dan kebahagiaan di akhirat.

Az-Zuhri berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Abu salamah bin Abdurrahman bahwa Aisyah istri Rasulullah SAW mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW pernah mendatangi Aisyah ketika Allah Ta’ala menyuruh beliau untuk memilih (cerai atau tetap bersama) para istrinya. (Kata Aisyah,) “Beliau memulai denganku (Aisyah ).

Beliau SAW bersabda,
“Saya hendak memberitahukan kepadamu hal yang sangat penting, karena itu, janganlah kamu terburu-buru menjawabnya sebelum kamu bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.’
Aisyah berkata, “Beliau tahu benar, kedua orang tuaku akan mengizinkan aku bercerai dengan beliau.”
Aisyah melanjutkan, “Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلا (٢٨) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (٢٩)

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: jika kalian menghendaki kehidupan dunia berserta perhiasannya, marilah kuberikan kepadamu suatu pemberian, dan jika kalian menghendaki Allah ta’aladan Rasul-Nya serta kampung akhirat, sesungguhnya Allah ta’ala menyediakan pahala yang besar bagi orang yang berbuat kebajikan di antara kamu.” QS. Al-Ahzaab [33]: 28-29).

Saya (Aisyah) berkata kepada beliau, ‘Apa untuk yang seperti ini saya harus minta musyawarah kepada kedua orang tua saya? Sudah barang tentu saya menghendaki Allah ta’ala dan Rasul-Nya serta kampung akhirat.’ “(HR. Bukhari: 4412)

Begitulah kelembutan hati Aisyah, istri beliau yang paling muda. Aisyah, tidak jual mahal, tidak membantah, tidak menawar, tetapi subhanallah jawaban istri ini menyejukkan hati suami ketika mendengar nasihat suami, bagaimana dengan kita sekarang?

Istri Rasulullah SAW Tidak Ambisi Duniawi


Istri beliau istri yang qona’ah, maksudnya ridha (rela) dengan rizki Allah yang mereka terima, tidak tamak, tidak menuntut sesuatu yang di luar kemampuan suami. Hal ini dapat kita buktikan dengan gaya hidup mereka setiap harinnya.
Dari Urwah, dari Aisyah dia berkata,

Demi Allah SWT hai kemenakanku, kami pernah menghitung awal tanggal berikutnya sampai awal tanggal berikutnya, yaitu tiga kali awal tanggal, selama dua bulan berturut-turut, tidak ada sesuatu yang dapat dimasak di dapur Rasulullah SAW.”

Urwah bertanya, “Wahai bibi, kalau begitu kalian semua makan apa saat itu?”
Aisyah menjawab, “Kurma dan air. Hanya, kebetulan Rasulullah SAW. Bertetangga dengan orang-oran Anshar dan mereka mendapatkan rezeki yang banyak hingga mereka sering mengirimkan sebagian air susu hewan mereka kepada Rasulullah SAW, dan kami menghidangkannya kepada beliau.” (HR.Muslim 8:219)

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya (Ibnu Abbad berkata, ‘Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tangan-Nya’) bahwasanya Rasulullah SAW dan keluarganya tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan makan roti dari gandum hingga beliau meinggal dunia.” (HR.Muslim 8:129)

Aisyah Ummul Mukminin berkata, “Pada suatu hari Rasullullah SAW pernah datang di rumah, lalu beliau bertanya,’Apakah kamu punya simpanan makanan? ‘Aku (Aisyah) berkata,’ Tidak punya.’

Beliau berkata, “Kalau begitu saya berpuasa.’”
Aisyah berkata,”Pada suatu hari beliau datang lalu aku berkata kepada beliau, ‘ Wahai rasulullah! Kita menerima hadiah berupa makanan hais (jenis makanan yang berupa kurma campur tepung).’

Lalu beliau berkata, ‘ Kalau begitu aku akan berbuka pada hari ini, padahal sebelumnya aku niat berpuasa.’” (HR.an-Nasai 4:195 disahihkan oleh Imam Albani)

Para Istri Rasulullah SAW Pandai Menghibur Suami.


Sungguh ada pelajaran yang sangat baik untuk wanita muslimah. Khadijah istri pertama Rasulullah SAW telah menentramkan Rasulullah SAW dari rasa takut saat beliau didatangin malaikat jibril menyampaikan wahyu untuk pertama kalinya begitulah seharusnya istri muslimah yang sayang kepada suami, hendaknya pandai meghibur suami pada saat dilanda kesedihan baik karena musibah yang menimpa atau kesulitan yang dihadapinya, atau kekurangan harta, sehingga kehidupan rumah tangga tetap baik dan sejahtera. Bukan sebaliknya, isteri menjadi beban dan menjadi sebab marah suami.

Para Istri Rasulullah SAW Betah Di rumah


Rumah tempat melindungi wanita dari bahaya dan fitnah, tempat istri menyambut dan menghibur suami pada saat pulang dari bepergian, melindungi anak kecil yang sangat butuh perawatan dan pengasuhan ibunya. Perhatikan wahai wanita muslimah! Allah memerintahkan apa kepada istri Rasulullah SAW dan wanita muslimah?
Allah SWT berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata:
Wanita hendaknya tinggal di rumah agar lebih selamat dan kehormatan dirinya terjaga, dan bila keluar tidak berhias diri atau tercium aromanya sebagaimana wanita jahiliah yang tidak mengenal syari’at Islam. Ini semua dalam rangka membendung kejahatan yang menimpa kepada wanita dan penyebabnya.” (Tafsir al-Karimur Rahman, 1:663)

Wanita muslimah yang betah di rumah sungguh sangat membantu pekerjaan rumah tangga, membantu pendidikan anak kecil yang butuh kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang, menghibur suami kapan saja pulang dari bepergian. Oleh karena itu, islam menunjukkan kepemimpinan di rumah adalah wanita terutama pada saat suami sedang keluar.
Rasulullah SAW bersabda:

والمرأة راعية في بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها

Dan wanita itu pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 3:497)

Karena pentingnya keberadaan wanita di rumah maka shalat yang merupakan pokok tiang agama, bagi wanita lebih utama menunaikan shalatnya di rumah dari pada di masjid.
Maka bagaimana bila wanita keluar bukan ke masjid?
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu Nabi SAW bersabda,

صلاة المرأة في بيتها أفضل من صلاتها في حجرتها وصلاتها في مخدعها أفضل من صلاتها في بيتها

Shalat seorang wanita dirumahnya lebih utama dari pada shalatnya di kamarnya, dan shalatnya di kamar lebih utama dari pada shalatnya di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud dishahihkan oleh al-Albani 2:270)

Ibnu katsir berkata,
Wanita hendaknya tetap dirumah kecuali ada kebutuhan kecuali shalat di masjid, dia boleh keluar, tentu apabila menampakkan perhiasanya dan tercium bau harumnya seperti sabda Rasulullah SAW,
Janganlah kamu melarang para hamba-wanita Allah pergi kemasjid-masjid allah.’(HR. Muslim 2:32).”(Tafsir Ibnu Katsir 6:68)

Seandainya kebaikan wanita itu keluar dari rumah, tentu shalat mereka di masjid lebih utama. Namun, apa wasiat Rasulullah SAW jika wanita sering keluar, beliau bersabda,

المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان

“wanita itu aurat apabila keluar maka disambut (dipercantik) oleh setan. “(HR. Tirmidzi 5:25)

Subhanallah, alangkah indahnya hidup wanita bila mau meniru jejak istri Rasulullah, alangkah sejuknya hati suami, alangkah bahagianya anak dan keluarga.

Ketika wanita dibolehkan keluar bersama mahramnya, mengapa dilarang menghias diri dari meniru wanita jahiliyah?

Muqkatil bin Hayan berkata, “Wanita dilarang berhias diri seperti orang jahiliyah karna wanita jahiliyah bila keluar meninggalkan kerudungnya atau tidak mau mengikat kerudungnya sehingga kalung, anting-anting, dan lehernya terlihat hingga tampaklah semua, maka inilah yang dinamakan wanita jahiliah berhias diri, sehingga wanita muslimah pada umumnya meniru mereka.”(Tafsir Ibnu Katsir, 6:410)

Wanita muslimah tentu tidak menginginkan bila keindahan dirinya dilihat selain suami yang dia cintai, karena mengamalkan ayat,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

Dan janganlah istri menampakkan perhiasannya kecuali pada kepada suami mereka.” (QS. An-Nur [24]: 31)

Istri Rasulullah SAW Mengenakan Jilbab


Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat, agar dirinya tetap indah, cacatnya tidak tampak dan keindahannya terlindungi. Bukankah terjadinya zina sebab gaya pakaian wanita?
Allah SWT menyuruh istri Rasulullah SAW putrinya, dan semua istri orang beriman agar berjilbab,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. Al-Ahzab [33]: 59)

Sementara itu,makna “jilbab” adalah al-milhafah (selimut yang menutupi wajah wanita dan semua anggota badannya tatkala akan keluar; sebagai mana yang di tuturkan Ibnu sirin. (Lihat Tafsir ad-Darul Mantsur 6/657, Tafsir Anwarut Tanzil/Al- Baidhawi 4/284, Tafsir an-Nasafi 3/453, 581, Fathul Qadir 4/304, Tafsir Ibnu Katsir 6/424, dan Tafsir Abu Suud 7/108.)

Ibnu Jarir Ath-Thabari menceritakan bahwa Abu Shalih berkata, “Tatkala Rasulullah SAW datang di Madinah sebelum turun ayat ini, istri nabi SAW dan wanita mukminah malam hari keluar untuk menunaikan hajatnya, sedangkan dijalan banyak kaum pria yag duduk dan bermain-main suka mengganggu; maka turunlajh ayat ini, wanita yang merdeka hendaknya berjilbab, agar tidak sama dengan wanita budak. “ (Jami’ul Bayanfi Tafsiril Qur’an 22/33)

Abu Abdillah al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ada wanita berbaju tipis dari Bani Tamim masuk di rumah Aisyah, Aisyah berkata, ‘Jika kamu wanita mukminah maka itu bukan pakaianmu, jika kamu bukan mukminah terserah apa yang kamu perbuat.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 14/233)

Begitulah seharusnya wanita muslimah berpakaian, tidak meniru wanita zaman sekarang yang brpakaian sempit (ketat), tipis, membuka sebagian anggota badannya, meniru pakaian wanita kafir, memakai pakaian pria, dan memakai ‘pakaian popularitas’ (di pakai agar tenar/’tampil beda’, Red.)

Beliau SAW bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثوبا مثله

Barang siapa yang memakai ‘pakaian popularitas’, maka Allah akan mengenakan pakaian baginya semisalnya pada hari Kiamat lalu dinyalakan api untuk membakarnya.” (HR. Abu Dawud: 3511)

Para Istri Rasulullah SAW Tidak Memerdukan Suara


Tidaklah diragukan bahwa lisan cukup besar manfatnya karena lisan alat untuk mengungkapkan isi hati, saranan berkomunikasi dengan orang lain, sangat berfaedah untuk menyampaikan amar makruf nahi mungkar, bahkan menyejukan hati suami ketika bercanda. Akan tetapi, tidak selamanya suara wanita menenangkan jiwa, bahkan mengakibatkan sakit pada hati kaum pria lain yang tidak mampu menahan syahwatnya-apalagi wanita itu penyanyi dan lainnya.

Allah SWT berfirman,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Hai istri-istri Nabi kamu sekalian tidak seperti waita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab [33]: 32)

As-Sudi berkata, “Wanita dilarang memerdukan suaranya ketika berbicara pada kaum pria karena akan mengakibatkan kerusakan hati mereka (sehingga) jatuh pada perbuatan keji atau zina. Ibnu Zaid berkata, ‘Janganlah wanita berbicara kepada kaum pria yang bukan mahramnya seperti dia berbica lembut kepada suaminya, tetapi hendaknya bicara yang wajar dan keras suaranya.’ “(Tafsir Ibnu Katsir 6/408)

Karena suara wanita menggangu ketenangan jiwa kaum pria, wanita tidak mengumandangkan azan, tidak mengimami kaum pria, tidak berkhotbah yang didengar oleh kaum pria, tidak menegur imam dengan suara ketika bacaannya salah; maka bagaimana jika dia bernyanyi dan menari? Semoga Allah SWT melindungi wanita muslimah dari bencana akibat suaranya yang merdu.

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadist dari Imran bin Husain Rasulullah SAW bersabda,

في هذه الأمة خسف ومسخ وقذف، فقال رجل من المسلمين: يارسول الله ومتى ذلك؟ قال: إذا ظهرت القينات والمعازف وشربت الخمور

Pada umat ini akan terjadi penenggelaman ke dalam bumi, perubahan rupa, dan pelemparan batu.” Seorang dari kaum muslimin beretanya,. “Wahai Rasulullah! Kapan hal itu akan terjadi?”Beliau menjawab, “Jika para penyayi wanita dan para pemain musik muncul terang-terangan, dan khimar diminum.” (HR. Tirmidzi: 2212; hadist hasan: ash-Shahihah [1604])

Para Istri Rasullah SAW Senang Menuntut Ilmu


Rumah bagi wanita muslimah, bukan hanya untuk istirahat, mendidik anak dan menyediakan kebutuhn suami, tetapi markas utama untuk beribadah kepada Allah SWT tempat yang pas dan aman untuk membaca al-Qur’an dan hadist yang shahih. Perhatikan perintah Allah SWT kepada istri Rasulullah SAW,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

Dan ingatalah apa yang dibacakan di rumahu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab [33]: 34)

Begitulah seharusnya wanita muslimah di rumah; tidak seperti wanita awam, rumah mereka penuh dengan hiburan TV dan lainnya.

Ibnu Katsir berkata, “Pertama Allah melarang istri beliau dan wanita muslimah berbuat keji, lalu diperintah agar beribadah seperti menjalankan shalat, menunaikan zakat, berbuat baik kepada keluarga, taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW; itu semua agar mereka bersih dari dosa.” (Tafsir Ibnu Katsir 6/410)

Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda,

لا تجعلوا بيوتكم مقابر ، إن الشيطان ينفر من البيت الذي يقرأ فيه سورة البقرة

Janganlah kamu menjadikan rumahmu sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan pergi dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah.” (HR. Muslim 2/188)

Maksudnya, rumah hendaknya dibuat untuk ibadah, shalat, membaca al-Qur’an dan hadist, dan menuntut ilmu sehingga tidak lagi statusnya seperti kuburan.”

Para Istri Rasullah SAW Dermawan


Bukan hanya Rasulullah SAW yang dermawan sehingga pada saat meninggal dunia beliau tidak mewariskan harta bahkan punya hutang gandum, bahkan istri beliau pun dermawan.

Aisyah istri Rasulullah SAW pernah bercerita,

دَخَلَتْ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ مَنْ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنْ النَّار

Ada seorang wanita datang kerumahku dengan membawa dua putri nya lalu dia meminta makan kepadaku, sedangkan aku tidak memiliki sesuatu kecuali kurma, dan aku berikan kepadanya, maka wanita itu membagi kurma untuk kedua putrinya, kemudian dia pulang. Lalu Nabi SAW masuk ke dalam rumah dan aku bercerita, lalu beliau bersabda,‘Barang siapa yang diserahi anak perempuan, lalu ia mendidiknya dengan baik, anak-anak mereka itu menjadi penghalang dirinya dari api neraka.’” (HR. Bukhari 2/514)

Begitulah kedermawanan istri Rasulullah SAW, lebih mendahulukan kepentingan orang lain dari pada untuk dirinya sendiri.

Wanita dermawan hatinya bersih dari sifat tamak dan rakus, tidak dengki ketika melihat kawan hidupnya kaya raya.
Wanita dermawan hidupnya hemat dan qana’ah serta senantiasa menolong saudaranya yang sengsara.

Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada wanita muslimah yang senantiasa bersedekah, sekalipun harta yang di sedekahkan milik suaminya , dia akan mendapatkan pahala. Dari Aisyah dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda,

مَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا , غَيْرَ مُفْسِدَةٍ , كَانَ لَهَا أَجْرُهَا , وَلَهُ مِثْلُهُ بِمَا كَسَبَ , وَلَهَا بِمَا أَنْفَقَتْ , وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ , مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

Apabila seorang wanita menafkahkan harta dari rumah (harta) suaminya dengan tidak berlebihan, maka wanita tersebut mendapatkan pahala dari apa yang telah ia keluarkan, dan suaminya pun mendapatkan pahala dari usahanya, dan penjaga gudangnya pun mendapatkan pahala, yang pahalanya tidak mengurangi pahala yang lainnya.’“(HR. Bukhari 2/728)

Akan tetapi, istri tidak boleh menginfakkan harta milik suami tanpa izinnya karena menurut asal, istri hendaknya menjaga harta suaminya.

Dari Abu Hurairah tentang seorang wanita yang bersedekah dari rumah suaminya ia berkata, “Tidak di perbolehkan kecuali dari makanannya sendiri, dan ganjarannya dibagi untuk keduanya (istri dan suami). Istri hendaknya tidak menyedekahkan harta suaminya kecuali atas izinnya,”(HR. Abu Daud; hadist shahih mauquf)

Para Istri Rasulullah SAW Rela Dimadu


Rasulullah SAW menikahi wanita lebih dari satu, bukanlah berniat mengumbarkan syahwatnya sehingga menodai wanita sebagaimana tuduhan orang kafir.

Seandainya beliau menikah tujuannya demikian, tentu menikahi gadis dan berkali-kali menceraikannya. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian, justru beliau pertama kali menikah dengan seorang janda yang bernama Khadijah binti Khuwailid, sedangkan selisih umurnya 15 tahun lebih tua dari Rasulullah SAW. Itu pun setelah istrinya wafat, beliau menduda kurang lebih dua tahun baru menikah lagi, karenan kebaikan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq menikahkan putrinya yang masih muda berumur enan tahun atas kehendak Abu Bakar sendiri, dan menikahi janda semata-mata ingin menolongnya.

Sifat kecemburuan wanita terhadap teman hidupnya tentu ada karna itulah tabiat mereka, tetapi tidak membawa kehancuran rumah tangga sehingga menyusahkan suami.

Wahai wanita muslimah! Perhatikan kisah yang mulia kerukunan istri-istri beliau, bahkan bercanda.

Dari Aisyah dia berkata, “Apabila Rasulullah SAW hendak bepergian, maka beliau pun mengundi para istrinya.” Pada suatu seketika, undian tersebut jatuh kepada Aisyah dan Hafshah.”

(Kata Aisyah), “Akhirnya kami bertiga pun pergi bersama-sama.” Ketika malam tiba, Rasulullah SAW biasanya menempuh perjalanan bersama Aisyah sambil berbincang-bincang dengannya. Hingga suatu saat Hafshah berkata kepada Aisyah, “ Hai Aisyah, bagaimana jika malam ini kamu mengendarai untaku dan aku mengendarai untamu. Setelah itu, kita akan memperhatikan apa yang akan terjadi nanti.”

Aisyah menjawab, “Baiklah!”

Lalu Aisyah mengendarai unta milik Hafshah dan Hafshah sendiri mengendarai unta milik Aisyah. Tak lama kemudian Rasulullah SAW mendatangi unta milik Aisyah yang kini dikendarai Hafshah. Rasulullah mengucapkan salam padanya dan menempuh perjalanan bersamanya hingga mereka singgah di suatu tempat. Sementara itu Aisyah merasa kehilangan Rasulullah SAW sehingga ia merasa cemburu. Oleh karena itu, ketika mereka singgah di suatu tempat, maka Aisyah menjulurkan kedua kakinya di antara pohon idzkhir sambil berkata,

Ya Allah ya tuhanku, perintahkanlah kalajengking atau ular untuk menggigitku, karena aku tidak kuasa untuk mengatakan sesuatu kepada rasul-Mu.” (HR. Muslim 7/138)

Ummu salamah, istri Nabi SAW bertanya,

Ya Rasulullah SAW seorang wanita dari kami ada yang kawin dua, tiga, dan empat kali lalu dia wafat dan masuk syurga bersama suami-suaminya juga. Siapakah kelak yang akan menjadi suaminya di syurga?”

Nabi SAW menjawab, “Dia di suruh memilih yang dia pilih adalah yang paling baik akhlaknya dengan berkata,’Ya Rabbku, orang ini ketika di dunia paling baik akhlaknya terhadapku. Kawinkanlah aku dengan dia.’ Wahai ummu salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.’”(HR.Ath-Thabrani 17/183; tetapi sanad yang bernama sulaiman bin Abi Karimah dia lemah; baca kitab Majamauz Zawaid wa Manbaul Fawaid 11/373)

Wanita boleh menawarkan dirinya agar dinikahkahi oleh pria yang shalih, untuk menjaga kehormatan dirinya, sebagaimana Nabi SAW pernah di tawari seorang wanita untuk di nikahi oleh beliau SAW.

Sahal bin Sa’ad berkata,”Seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW lalu berkata,’Wahai Rasulullah, saya menawarkan diri saya untuk engkau.’Tiba-tiba ada seorang laki-laki berkata,’Nikahkanlah saya dengannya.’Beliau berkata,’ Kami nikahkan kamu dengannya dengan mahar bacaan al-Quran yang ada padamu.’“(HR. Bukhari: 2144)

Begitu indahnya keadaan para istri beliau SAW. Karena iman, hidup mereka rukun. Semoga kisah ini menjadi suri tauladan istri lainnya. Mari kita perhatikan wasiat beliau SAW. Nabi SAW bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة

Siapa saja wanita yang meminta suami agar menceraikan dirinya tanpa alasan yang benar maka haram dia mencium bau surgaa” (HR. Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah SAW bersabda,
Janganlah seorang wanita meminta perceraian atas saudara perempuannya agar ia segera (dapat) dinikahi, sebab baginya hanyalah apa yang telah di tetapkan.’ “ (HR. Bukhari 6/2435)

Akhirnya, semoga Allah SWT memberkahi hidup kita berkeluarga, menjadi suami dan istri yang mengikuti jejak Rasulullah SAW dan istrinya. Amin.

___________
Sumber: Artikel “Keteladanan Para Istri Nabi” Oleh Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron dimuat di Majalah Al-Furqon 127 Edisi 1 Tahun ke 12

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Akhlak Istri-istri Rasulullah yang Patut Ditiru Setiap Muslimah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel