Kisah Perjalanan Agung Isra' Mi’raj Nabi Muhammad SAW Bagian 6

 Kisah Perjalanan Agung Isra' Mi’raj Nabi Muhammad SAW Bagian 6

Kisah Perjalanan Agung Isra' Mi’raj Nabi SAW Bagian 6

Setelah mereka masuk ke langit keempat, Nabi SAW bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihissalam. Sesungguhnya Allah telah mengangkatnya kepada derajat yang tinggi. Nabi Muhammad SAW memberi salam kepadanya dan Nabi Idris menjawab salamnya serta menyambutnya, “Selamat datang wahai saudara yang shaleh serta Nabi yang shaleh”, lalu Nabi Idris mendoakan Rasulullah SAW dengan kebaikan.

Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke lima. Setelah mereka masuk ke langit kelima, Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihis salam. Nabi Harun setengah dari jenggotnya berwarna putih dan setengahnya lagi berwarna hitam, dan hampir-hampir panjangnya hingga ke pusar. bersamanya sekelompok kaumnya dari Bani Israil dan Nabi Harun sedang asyik berbincang dan bercerita dengan mereka. Nabi Muhammad SAW memberi salam kepadanya dan Nabi Harun menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang shaleh serta Nabi yang shaleh”, lalu Nabi Harun mendoakan Rasulullah SAW dengan kebaikan. Kemudian Nabi Muhammad SAW bertanya, “Siapa beliau wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Beliau adalah seorang lelaki yang dicintai oleh kaumnya, yaitu Nabi Harun bin Imron ‘alaihis salam. Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke enam.

Setelah mereka masuk ke langit keenam, di perjalanan Nabi SAW menyaksikan para nabi dan rasul bersama dengan umat mereka masing-masing. Beberapa dari mereka yang hanya memiliki kurang dari sepuluh pengikut, beberapa yang lain yang pengikutnya puluhan, beberapa yang lain yang pengikutnya banyak dan beberapa lainnya yang tidak punya sakalipun satu pengikut. Kemudian Nabi SAW melewati suatu kelompok yang sangat besar yang memenuhi ufuk langit, maka Nabi SAW bertanya, “Kaum siapakah ini?”Jibril menjawab, “itu adalah Nabi Musa beserta kaumnya, tapi angkatlah kepalamu ya Muhammad,” maka Nabi SAW melihat sekelompok kaum yang jauh lebih banyak dan besar telah memenuhi ufuk langit dari berbagai sisinya. Jibril berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “mereka adalah umatmu dan masih belum termasuk yang tujuh puluh ribu dari umatmu yang akan masuk surga tanpa dihisab.”

Setelah menyaksikan para nabi dan rasul beserta kaum mereka masing-masing, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa bin Imran ‘alaihis salam, dan tubuh beliau berwarna putih kemerahan, seperti seorang dari suku Asy-Syanuah, berbulu lebat, seandainya dia memakai dua gamis maka terlihat bulunya. Nabi Muhammad SAW memberi salam kepadanya dan Nabi Musa menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai saudara yang shaleh serta Nabi yang shaleh,” lalu Nabi Musa mendoakan Rasulullah SAW dengan kebaikan. Kemudian Nabi Musa berkata, “Manusia mengira bahwa aku adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah, namun ternyata dialah (Rasulallah) yang lebih mulia dariku di sisi Allah.”


Di perjalanan Nabi SAW menyaksikan Nabi Musa menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuat engkau menangis?” Nabi musa menjawab, “Aku menangis karena sesungguhnya ada seorang pemuda yang diutus dari setelahku dan masuk ke surga dari umatnya lebih banyak dari pada umatku. Kaum Bani Israil menyangka sesungguhnya aku adalah anak Adam yang paling mulia dihadapan Allah namun kenyataannya Rasulullah SAW adalah dari keturunan Adam menggantikanku di dunia dengan kemulian agungnya di sisi Allah sedangkan aku di akhirat. Jikalau hanya dia seorang yang mengungguliku dalam kemuliaan di sisi Allah sungguh aku tidak menghiraukannya, akan tetapi umatnya pun bersamanya dalam mengungguli kemuliaan di sisi Allah.” Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanannya hingga naik ke langit ke tujuh.

Setelah mereka masuk ke langit ke tujuh, Nabi SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim Al Kholil sang sahabat Allah, yang duduk di pintu surga di atas kursi emas, sambil menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur bersama sekelompok orang dari kaumnya. Nabi Muhammad SAW memberi salam kepadanya dan Nabi Ibrahim menjawab salamnya serta menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai putraku yang shaleh serta Nabi yang shaleh”, lalu Nabi Ibrahim berkata, “Perintahkanlah kepada umatmu supaya memperbanyak menanam pohon surga, karena sesungguhnya tanah surga sangat luas, subur dan bagus.” Maka Nabi SAW bertanya, “Apakah pohon surga itu?” Nabi ibrahim menjawab, “pohon surga itu adalah kalimat

لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيم

Di dalam riwayat lain, “Sampaikan kepada umatmu salam, dan berilah kabar dariku kepada umatmu sesungguhnya surga itu bagus dan subur tanahnya, tawar dan segar airnya dan sesungguhnya pohon surga itu adalah kalimat

سُبْحَانَ اللهِ وَ الحَمْدُ للهِ وَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَر

Di tempat itu Nabi Muhammad SAW menyaksikan sekelompok kaum yang sedang duduk, amat putih wajah mereka seperti putihnya kertas, dan sekelompok kaum yang lain warna mereka tidak seputih kelompok yang tersebut, seakan warna mereka ada sesuatu. Kemudian mereka (kelompok kedua) masuk ke suatu sungai lalu mereka mandi di dalamnya sebanyak tiga kali, dan usai mandi pertama mereka keluar dari sungai dan sesuatu pada warna mereka telah berubah menjadi putih, kemudian mereka mauk kembali ke sungai untuk mandi yang kedua kalinya, dan usai mandi kedua warna mereka menjadi bersih dari noda, kemudian mereka masuk lagi ke sungai untuk mandi ketiga kalinya dan usai mandi ketiga warna mereka menjadi putih sebagaimana kelompok pertama. Mereka datang dan duduk bersama kelompok pertama. Nabi SAW bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu yang putih wajahnya, dan siapakah orang-orang yang seakan warna mereka ada sesuatu, dan sungai apakah ini yang mereka masuk dan mandi di dalamnya?” Maka Jibril menjawabnya, “adapun mereka itu yang putih wajahnya adalah kaum yang tidak bercampur iman mereka dengan kedhliman, adapun mereka yang seakan warna mereka terdapat sesuatu adalah kaum yang mencampur amal kebaikan dengan kejelekan, kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka. Adapun sungai ini, yang pertama adalah rahmat Allah, yang kedua adalah nikmat Allah, dan yang ketiga adalah Allah memberi minum mereka dengan minuman yang suci.”Kemudian dikatakan kepada Nabi Muhammad SAW, “ini adalah tempatmu dan tempat umatmu.”

Tiba-tiba Nabi SAW melihat umatnya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mereka mengenakan pakaian seperti kertas yang putih dan kelompok kedua mereka mengenakan pakaian yang keabu-abuan. Nabi SAW masuk ke Baitul Ma’mur bersama orang-orang yang berpakaian putih dan orang-orang yang berpakaian keabu-abuan terhalang walau sebenarnya merekapun termasuk orang-orang yang dalam kebaikan. Nabi SAW shalat bersama orang mu’min di dalam Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitul Ma’mur dan tidak pernah keluar lagi sampai hari kiamat. Sesungguhnya Baitul Ma’mur itu bersejajar dengan Ka’bah, sehingga jika ada batu yang jatuh dari Baitul Ma’mur pasti akan terjatuh di atas Ka’bah.

Di dalam riwayat disebutkan bahwasanya disodorkan kepada Nabi Muhammad SAW tiga wadah. Beliau mengambil wadah yang berisi susu dan Jibril membenarkan dan merestui pilihan Nabi Muhammad SAW. Di dalam riwayat lain saat itu Jibril berkat, ini adalah fitrahmu (kesucianmu) dan umatmu. Dalam suatu hadits riwayat Al Imam Ath Thobroni dengan sanad yang shohih, “Ketika malam aku di israkan, aku melalui dan menyaksikan Al Mala’ Al A’la, dan aku menyaksikan Jibril laksana pakaian usang karena rasa takutnya yang amat sangat besar kepada Allah.”


Oleh Habib Ahmad Novel Jindan

Baca Juga : Kisah Perjalanan Agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Bagian 7

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk " Kisah Perjalanan Agung Isra' Mi’raj Nabi Muhammad SAW Bagian 6"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel