Menyambut Haul Solo (Bagian Terakhir)

Menyambut Haul Solo (Bagian Terakhir)

Tentang kemuliaan Shahibul Haul, Al-Arif Billah Al-Qutbul Wujud Sayyidina Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi.

Siang itu, sesudah Jama'ah Shalat Dhuhur di Masjid Riyadl, Habibana Anis Al-Habsyi bercerita kepada kami bahwa dahulu ada seorang Syekh di Masjidil Haram Makkah yang dikenal sebagai Ahli Shalawat.

Setiap nafas dan gerakan beliau selalu dalam bayang-bayang kemuliaan Shalawat kepada Nabi SAW. kemudian datang, seseorang dari Hadramut mendekati beliau. Berkata Hadromiy itu kepadanya:
" Ya Syaikh, Ijinkan saya membacakan sebuah shalawat di hadapan Tuan."
" Marhaban ... Silahkan" Jawab Syaikh.

Hadromy itu kemudian mulai membaca sebuah Naskah Shalawat yang agung - yang termaktub di dalam Hizb Hari Jum'at di kitab Lathaiful Arsyiyyah - Shalawat buah karya Al-Habib Ali:
"ALLOHUMMA SHOLLI WASALLIM 'ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN
BILLISANIL JAMI'AH .... FIL HADH ROTIL WASI'AH .
SHOLATAN TAMUDDU BIHA JISMIY MIN JISMIH
WAQOLBIY MIN QOLBIH
WARUHIY MIN RUHIH
WASIRRIY MIN SIRRIH
WA 'ILMIY MIN ILMIH
WA AMALIY MIN AMALIH
WA KHULUQIY MIN KHULUQIH
WA WIJHATIY MIN WIJHATIH
WANIYYATIY MIN NIYYATIH
WAQOSHDIY MIN QOSHDIH
WATA 'U_DU BAROKATUHA 'ALAYYA ... WA'ALA AWLADIY ....WA'ALA AHLIY ...WA'ALA ASHABIY ....WA'ALA AHLI 'ASHRIY
YA NUR ...YA NUR ...IJ'ALNIY NURON BIHAQQI NUR ...
Ya Allah , semoga shalawat dan salam tercurah kepada Bagindaku Muhammad, (shalawat yang diungkapkan) dengan lisan yang mengandung seluruh kata-kata
(shalawat yang terucap) didalam (suasana) kehadiran (hati) yang seluas-luasnya .
Shalawat yang dengannya Jasadku terlimpahi (kemuliaan) dari Jasadnya (Rasulullah)
Hatiku dari Hati Rasulullah
Ruhku dari Ruh Rasulullah
Sir ku dari Sir Rasulullah
Amalku dari amal Rasulullah
Pekertiku dari pekerti Rasulullah
Tawajjuh (hatiku) dari Tawajjuh Rasulullah
Niatku dari Niat Rasulullah
Tujuanku dari tujuan Rasulullah
Shalawat yang keberkahannya menaungi diriku, anak-anakku, keluargaku, para shahabatku dan para ahli jamanku ...

Wahai Allah Sang Cahaya ... Wahai Allah Sang Cahaya ...
Jadikan diriku bercahaya, berkah haq (dan kemuliyaan Rasulullah Sang) Cahaya ..."
mendengar shalawat itu dibaca, Syaikh tersebut seketika mengalami perubahan keadaan sprituaal yang membuatnya tidak dapat menguasai diri. Hal yang datang menghinggapinya membuat tubuhnya melayang-layang ke angkasa. Para Hadirin pun terkesiap melihat apa yang ada di depan mata mereka.
Ketika shalawat selesai dibaca, Syaikh itu kembali turun ke bawah dengan sendirinya. Begitu dia dapat menguasai keadaannya, dia bertanya:
"Siapakah gerangan yang merangkai shalawat ini? "
Hadromiy itu menjawab : "Beliau adalah Guruku dari Kota Sewun, Sayyidiy Ali bin Muhammad Al-Habsyi ..."

Syekh itu berbinar rona wajahnya dan seraya berkata: "Layaklah , jika demikian...!
Saksikanlah, mulai saat ini akau akan menjadikan shalawat Al-Habib Ali ini sebagai wirid utamaku mengalahkan shalawat-shalawat yang lain yang biasa aku baca sebelumnya ..."

Habibana Anis berkata pendek kemudian :
"Saking dahsyatnya isi"pengakuan-pengakuan "Habib Ali dalam shalawatnya ini, sampai banyak para Arifin yang tidak berani mengucapkannya ...Takut apa yang diucapkan dalam shalawat ini tidak sama dengan keadaan spritual yang sebenarnya ayang ada dalam diri mereka ... "

Namun Habibana Anis tetap mengijazahkan shalawat ini kepada kami .. :
" Niat membacanya sebagai niat ittiba' dan tabarruk saja dengan Habib Ali"
Keagungan Al-Habib Ali al-Habsyi tidak diragukan lagi dimengerti oleh siapa saja yang hidup sejamannya atau yang hidup sesudahnya . bahkan seseorang yang tidak pernah bertemu langsung dengan beliau , tanpa ragu memasukkan beliau dalam deretan Auliya yang dikenalnya.
Syaikh an Nabhaniy di dalam Jami' Karomatil Auliya menulis tentang Habib Ali, singkatnya demikian:
"Aku tidak pernah bertemu dengan beliau, tetapi aku sangat meyakini kewaliyan agung beliau... "
Antara Syaikh An-Nabhaniy dengan Al-Habib Ali yang hidup satu jaman memang hanya pernah berhubungan murosalat, korespondensi saja. Bertemu langsung tidak pernah. Tetapi tidak menghalangi beliau memasukkannya dalam Tabaqhat Auliya yang dituliskannya.

Suatu saat, dalam sebuah majlis diungkapkan sebuah mimpi seorang Ahlillah. Tersebut di dalam mimpi tersebut:
"Jakfar bin Hamid bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan Beliau Rasulullah SAW berkata ... Ali Alhabsyi, amal perbuatannya dan amal perbuatan para muridnya semua di terima oleh Allah Ta'ala "
Mendengar itu, maka seorang Auliya' besar, Al-Allamah di jamannya Shahibul Anfas Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas berkata:
"Jika demikian, maka mulai saat ini kami ini adalah murid-muridmu, Wahai Ali"
Al-Habib Ali menjawab: "Kalian semua adalah murid-muridku"
_Dan kita semua tentu berharap menjadi bagihan dari murid-murid beliau. Bagian dari segolongan Ummat yang di terima amal-amalnya.

Di saat menerangkan tentang permasalahan ini, di hadapan para Muridnya Habibana Salim bin Abdullah Asy-Syathiriy berkata:

"Al-Habib Ali al Habasyi mendapatkan kedekatannya dengan Baginda Rasulullah itu langsung tanpa perantara (bighoiri washilatin). Dan Ayahku, al-Walid Abdullah bin Umar mendapatkan kedekatan itu melalui perantara Al-Habib Ali. Sedangkan diriku mendapatkan kedekatan itu melalui Ayahku.."
Para Murid bertanya: "Bagaimana dengan kami, Ya Habib Salim,. Melalui siapa gerangan kami dapat memperoleh kedekatan dengan Baginda Nabi SAW?"
Habibana Salim as-Syathiriy menjawab: "Kalian dapat memperoleh kedekatan itu dengan melalui perantara diriku..."
Wal Hamdulillah, dengan kita menghadiri Haul beliau di kota Solo, membaca Kitab Shimthud Duror karya besar beliau, adalah wujud atau pertanda "kedekatan-kedekatan" Muhammadiyyah kita semua melalui Al-Habib Ali Al-Habsyi ini.

Besar harapan kita untuk benar-benar kedekatan itu menjadi kenyataan. Jika tidak di dunia, semoga akan datang nanti di akhirat. Karena kita betul-betul merasa “kemanisan" yang teramat sangat jika kita bersentuhan dengan apapun yang berhubungan dengan Al-Habib Ali.

Dalam bahasa yang lebih luas, Al-Habib Ali pernah berkata:
" Tiada orang yang mendekat kepada keluarga al Habasyi, kecuali kebaikan akan menyelimuti dirinya. Hal itu karena kemanisan Habasyiyah nya."
sesungguhnya banyak kata dan kalimat yang bisa disusun dalam tulisan ini, karena keagungan, karomah serta keajaiban beliau Al-Habib Ali itu laksan lautan tak bertepi.

Hanya saja, itu tidak mungkin, dan sedikit saja yang kami tuturkan ini sebagai isyarat yang mencukupi bagi orang-orang yang mempunyai Nurani dan kepekaan akal yang tinggi.

Maafkan saya, jika selama seminggu ini tidak dapat memberikan yang terbaik dari maidah-Maidah Habasyiyyah. Karena maidah yang sesungguhnya telah tercurah begitu derasnya dari langit mengayumi Bumi Kota Solo.
"Rabbana anzil alayna maidatan minas sama'i takunu lana 'idan liawwalina wa akhirina, waayatan minka.. "

Ayoo, yang tidak ada udzur silahkan datang kemari . Ini undangan Al-Habib Ali. Ini Hidangan , hidangan Al-Habib Ali.

Marhaban ahlan wasahlan wa marhaban ....

Jum'at , 29 Januari 2016
dipojokan Warnet, Kota Solo

Baca Lagi: Menyambut Haul Solo (bagian Pertama)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Menyambut Haul Solo (Bagian Terakhir)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel